Rabu, 15 Juni 2011

Fakta Data Korupsi Di Indonesia Semakin Banyak


IlmuNyata - Korupsi adalah budaya buruk bangsa Indonesia yang sulit diatasi. Berbagai faktor berpengaruh terhadap kejadian korupsi.
Data hasil survei Transparency Internasional mengenai penilaian masyarakat bisnis dunia terhadap pelayanan publik di Indonesia. Hasil survei itu memberikan nilai IPK (Indeks Persepsi Korupsi) sebesar 2,2 kepada Indonesia. Nilai tersebut menempatkan Indonesia pada urutan 137 dari 159 negara tersurvei.
Survei Transparency International Indonesia berkesimpulan bahwa lembaga yang paling buruk tingkat korupsinya adalah
lembaga peradilan (27%)

perpajakan (17%),

kepolisian (11%)

DPRD (10%)

kementerian/departemen (9%)

bea dan cukai (7%)

BUMN (5%)

lembaga pendidikan (4%)

perijinan (3%)

pekerjaan umum (2%).
Survei terbaru Transparency International yaitu “Barometer Korupsi Global”, menempatkan partai politik di Indonesia sebagai institusi terkorup dengan nilai 4,2 (dengan rentang penilaian 1-5, 5 untuk yang terkorup).
Di kalangan negara terkorup Asia, Indonesia menduduki prestasi sebagai negara terkorup dengan skor 9.25 (terkorup 10) di atas India (8,9), Vietnam (8,67), Filipina (8,33) dan Thailand (7,33).
PERC : Indonesia terburuk tingkat korupsinya
Indonesia yang disebut-sebut sebagai salah satu bintang negara emerging markets ternyata merupakan negara terkorup dari 16 negara tujuan investasi di Asia Pasifik. Demikian hasil survei bisnis yang dirilis Political & Economic Risk Consultancy atau PERC, Senin (8/3/2010).
Dalam survei tahun 2010, Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara terkorup dengan mencetak skor 9,07 dari nilai 10. Angka ini naik dari 7,69 poin tahun lalu.
Hasil Survey PERC tentang negara terkorup di 16 negara tujuan investasi di Asia Pasifik.
Indonesia

Kamboja

Vietnam

Filipina

Thailand

India

China

Malaysia

Taiwan

Korea Selatan

Makao

Jepang

Amerika Serikat

Hongkong

Australia

Singapura  
Survei yang melibatkan 2.174 orang eksekutif tingkat menengah dan senior di Asia, Australia, dan Amerika Serikat ini melihat bagaimana korupsi berdampak pada berbagai tingkat kepemimpinan politik dan pamong praja serta lembaga-lembaga utama. Survei ini juga mencakup penelitian tentang pengaruh korupsi terhadap lingkungan bisnis secara keseluruhan.
Mengenai Indonesia, lembaga yang berbasis di Hongkong menyebutkan bahwa dengan merajalelanya korupsi di semua level, perang korupsi yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah terhambat politisasi isu yang dilakukan oleh pihak yang merasa terancam oleh aksi yang dilakukan SBY.

“(Hasil) korupsi digunakan oleh para koruptor untuk melindungi mereka sendiri dan untuk melawan reformasi. Seluruh perang terhadap korupsi terancam bahaya,” sebut laporan itu.
Reuters sebelumnya melihat bahwa kasus Century merupakan pertarungan antara kubu reformasi dan anti-reformasi. Reuters menilai bahwa Menkeu Sri Mulyani telah melakukan reformasi birokrasi untuk membersihkan para pejabat korup di Direktorat Pajak dan Direktorat Bea Cukai yang berada di bawah kementerian yang dia pimpin.v Menurut Reuters, dengan mengutip seorang investor AS di Indonesia, para investor sangat khawatir dengan para politisi Indonesia yang lebih tertarik untuk bertarung memperebutkan kekuasaan daripada mendukung proses reformasi.
“Kehilangan seorang reforman akan membuat investor khawatir bahwa Indonesia akan kembali ke kapitalisme kroni, yang akan sangat menyakitkan bagi para investor dan sebagian besar bangsa Indonesia, setidaknya bagi mereka yang bukan dari bagian para taipan atau secara politis berhubungan baik ataupun keduanya,” ungkap investor yang enggan disebut namanya ini
Tahun 2010 meningkat
Berdasarkan hasil investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW) tahun 2010 semester I ini, korupsi justru terus mengalami peningkatan. Selama periode 1 Januari – 30 Juni 2010 ditemukan 176 kasus korupsi yang terjadi di level pusat maupun daerah. Tingkat kerugian negaranya pun mencapai Rp2,102 triliun.
Untuk perbandingan, tahun 2009 semester I sebanyak 86 kasus dengan tingkat kerugian negara mencapai Rp1,7 triliun. “Tingkat korupsi semester I tahun ini meningkat sekitar 50 persen dibanding semester I tahun 2009,” kata Koordinator Divisi Investigasi Publik ICW, Agus Sunaryanto di kantor ICW, Kalibata, Jakarta, Rabu 4 Agustus 2010.
Jumlah pelaku korupsi yang telah ditetapkan sebagai tersangka di semester I tahun ini sebanyak 441 orang. Sedangkan tahun lalu sebanyak 217 orang sudah menyandang status tersangka.
Pelaku korupsi yang menempati peringkat tertinggi diduduki oleh swasta dengan latar belakang komisaris maupun direktur perusahaan sebanyak 61 orang. Empat pelaku tertinggi lainnya yakni, kepala bagian (56 orang), anggota DPRD (52 orang), karyawan atau staf di pemerintah kabupaten/kota (35 orang) dan kepala dinas sebanyak 33 orang.
Status tingkat korupsi di beberapa kota di Indonesia
Transparency International Indonesia (TII) melansir Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2010 terhadap 50 kota. Hasil survei menunjukkan, Denpasar berpredikat sebagai kota terbersih dengan IPK 6,71, Pekanbaru dan Cirebon berpredikat terkorup dengan IPK 3,61. IPK Indonesia adalah instrumen pengukuran tingkat korupsi di kota-kota Indonesia.
Survei TII ini dilakukan dengan wawancara 9.237 responden pelaku bisnis, pada Mei-Oktober 2010. Rentang indeks antara 0 sampai dengan 10. IPK 0, dipersepsikan sangat korup dan IPK 10 dipersepsikan sangat bersih.
Kota dengan skor tertinggi mengindikasikan bahwa pelaku bisnis di kota tersebut menilai korupsi mulai menjadi hal yang kurang serius. Sebaliknya untuk kota yang mendapat IPK terendah menunjukkan korupsi masih lazim terjadi di sektor-sektor publik, sementara pemerintah daerah dan penegak hukum kurang serius dalam pemberantasan korupsi.
Hasil ini menunjukkan, ternyata korupsi menjadi masalah penting bagi pelaku bisnis di Indonesia menjalankan usahanya. Survei IPK juga menujukkan bahwa bagi kalangan usaha, kepolisian, pajak, dan pengadilan, serta kejaksaan merupakan lembaga yang perlu diprioritaskan dalam pemberantasan korupsi.
IPK 50 kota di Indonesia 2010:

1. Denpasar, IPK 6,71

2. Tegal, IPK 6,26

3. Surakarta, IPK 6,00

4. Yogyakarta, IPK 5,81

5. Manokwari, IPK 5,81

6. Gorontalo, IPK 5,69

7. Tasikmalaya, IPK 5,68

8. Balikpapan, IPK 5,58

9. Kediri, IPK 5,56

10. Lhokseumawe, IPK 5,55

11. Sampit, IPK 5,55

12. Tenggarong, IPK 5,41

13. Mataram, IPK 5,39

14. Manado, IPK 5,35

15. Ambon, IPK 5,29

16. Banjarmasin, IPK 5,20

17. Kendari, IPK 5,20

18. Sibolga, IPK 5,15

19. Palu, IPK 5,10

20. Padang, IPK 5,07

21. Purwokerto, IPK 5,06

22. Bandung, IPK 5,04

23. Palangkaraya, IPK 5,03

24. Pematang Siantar, IPK 5,02

25. Semarang, IPK 5,00

26. Bandar Lampung, IPK 4,93

27. Kupang, IPK 4,89

28. Serang, IPK 4,87

29. Samarinda, IPK 4,85

30. Batam, IPK 4,73

31. Jember, IPK 4,71

32. Palembang, IPK 4,70

33. Banda Aceh, IPK 4,61

34. Padang Sidempuan, IPK 4,58

35. Tanjung Pinang, IPK 4,55

36. Pontianak, IPK 4,52

37. Mamuju, IPK 4,45

38. Jakarta, IPK 4,43

39. Ternate, IPK 4,42

40. Bengkulu, IPK 4,41

41. Jayapura, IPK 4,33

42. Sorong, IPK 4,26

43. Pangkal Pinang, IPK 4,19

44. Medan, IPK 4,17

45. Malang, IPK 4,15

46. Jambi, IPK 4,13

47. Makassar, IPK 3,97

48. Surabaya, IPK 3,94

49. Cirebon, IPK 3,61

50. Pekanbaru, IPK 3,61


Waooo itu diatas pada tahun 2010 ... Bagaimana tahun 2011 nya ~~~~~~~~ Yuk Pikir Pelakunya sekarang

Sumber : Ilmunyata.blogspot

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar